Sunday, April 10, 2011

Syarat-syarat menjadi seorang Khalifah (pemimpin)

Syarat pertama: Islam.

Seluruh sahabat menyapakati syarat ini yaitu islam, maka tidak boleh bagi Negara islam atau yang majoriti penduduknya adalah muslim di pimpin oleh seorang yang lain selain dari beragama Islam,

Syarat kedua: Balig (dewasa).

Hal ini juga di sepakati oleh seluruh sahabat bahwa setiap calon khalifah atau pemimpin harus sudah balig.

Syarat ketiga: laki-laki.

Seorang pemimpin sesuatu Negara tersebut haruslah seorang laki-laki, tentunya hal ini ada pada diri setiap calon khalifah di zaman Sahabat.

Oleh kerana itu ketiga syarat ini yaitu: Islam, balig (dewasa) dan laki-laki, tidak seorang pun dari para sahabat yang boleh mengatakan dirinya lebih utama dari yang lain.

Syarat keempat: Adil.

Seluruh sahabat tanpa terkecuali adalah adil sesuai kesepakatan para ulama, adil ialah dari segi: kemampuan atau naluri yang terdapat pada peribadi seseorang yang akan membawanya untuk selalu bertakwa dan menjaga keperwiraan atau muru’ah.

Sementara takwa, sekalipun ia adalah termasuk perbuatan-perbuatan yang memerlukan keserasian antara yang batin (tersembunyi) dan yang dzahir (yang Nampak), sunyi dan terang-terangan, akan tetapi takwa di sini yang menjadi dasar syarat adil ialah sesuai yang terlihat orang saja, karena tidak ada satupun manusia yang mampu untuk mengetahui bagaimana hati seseorang, berdasarkan dari tolak ukur ini, maka defenisi takwa yang di inginkan pada diri seorang khalifah ialah:

"Menjauhi perbuatan-perbuatan yang buruk seperti: kemusyrikan, fasik dan bid'ah".

Maka ia tidak boleh melakukan perbuatan apapun yang mengandung kemusyrikan, begitupun dia harus menjauhi segala perbuatan yang bolah membuat ia di anggap sebagai orang fasik, seperti meninggalkan solat, tidak menunaikan zakat, meninggalkan kewajiban berpuasa (di bulan ramadhan), dan melakukan perbuatan-perbuatan dosa besar yang lain seperti meminum minuman kerasmajoriti, berzina, secara terang-terangan melakukan perkataan dan perbuatan yang keji, membunuh tanpa hak, dan mencaci agama.

Seorang pemimpin juga harus menjauhi segala perbuatan bid'ah dan tidak mendakwahkannya, dan ulama berbeza pendapat mengenai dengan dosa-dosa kecil artinya apakah menjauhinya adalah termasuk suatu syarat atau bukan untuk menjadi seorang khalifah, para ulama sepakat bahwa orang yang senantiasa melakukan dosa-dosa kecil akan membuat ia tidak dapat di kategorikan sebagai orang yang adil.

Adapun yang di maksud dengan kata al Muru'ah ialah: menjauhi dari segala bentuk-bentuk kekurangan-kekurangan (aib), yang biasanya hal tersebut bukanlah hal yang di haramkan tapi mubah akan tetapi ia (Sebagai seorang khalifah atau pemimpin) tidak boleh untuk melakukan hal tersebut, hal ini berkaitan dengan kebiasaan dan syari'at secara bersamaan, contohnya terlalu banyak bergurau, kerana hilangnya kemuliaan seseorang akan menjatuhkan Muru'ah seorang laki-laki, sekalipun ia benar atau jujur ketika bergurau.

Orang-orang dulu menganggap bahwa makan di jalan dan di pasar-pasar adalah termasuk yang dapat menjatuhkan Muru'ah seseorang, akan tetapi kebiasaan atau adat seseorang membolehkan hal tersebut atau menganggapnya hal yang biasa, dan syari'at pun tidak melarang hal tersebut.

Oleh kerana itu syarat adil ialah di maksudkan agar seorang khalifah bertakwa dan mempunyai Muru'ah , sekalipun kita telah menyebutkan bahwa seluruh sahabat radhiyallahu'anhum ajma'in tanpa terkecuali adalah adil ('uduul) dari sisi ini, akan tetapi yang jelas dan telah di maklumkan bahwa Abu Bakar radhiyallahu'anhu adalah sahabat yang paling adil di bandingkan dengan yang lain, beliau lebih bertakwa di bandingkan dengan para sahabat yang lain, dan lebih menjaga muru'ah, hal ini sesuai dengan hadis-hadis yang telah kita sebutkan dan sesuai dengan kesaksian Rasulullah saw. untuknya dengan keimanannya, persahabatannya dan ditempatkan tempat tertinggi di surga (bersama dengan Rasulullah saw.).


*Wallahu a'lam bi shshawaab.*


p.s; Layak ke orang Johor tu jadi Khalifah untuk Keluarga dia?? kih kih kih.....

No comments: